Penilaian Hutan
Review Jurnal NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN KAYU PUTIH: Kasus di Desa Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku
|
Judul |
NILAI EKONOMI TOTAL HUTAN KAYU
PUTIH: Kasus di Desa Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku |
|
Jurnal |
Manajemen Hutan Tropika |
|
Volume dan Halaman |
Vol. XII No. 1, Hal. 14 – 26 |
|
Tahun |
2006 |
|
Penulis |
Evelin Parera, Dudung Darusman
dan Bintang Simangunsong |
|
Reviewer |
Fahmi Idris Daulay (181201122) |
|
Tanggal |
14 Desember 2020 |
|
Tujuan Penelitian |
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui keadaan potensi ekonomi hutan kayu putih; dan menghitung Nilai
Ekonomi Total yang terkandung di dalam hutan kayu putih. |
|
Subjek Penelitian |
Subjek yang dipilih dalam
penelitian ini adalah Tegakan Kayu Putih dan Pengelolaan Hutan Kayu Putih
yang Berinteraksi Langsung dengan Hutan Kayu Putih. |
|
Metode Penelitian |
Metode yang digunakan untuk
menentukan nilai guna langsung yaitu : 1. Untuk
nilai kayu bakar dan nilai air menggunakan metode harga pasar dan biaya
pengadaan. 2. Untuk
menentukan nilai pilihan (nilai flora dan fauna) menggunakan metode nilai
tukar relatif. |
|
Hasil Penelitian |
Nilai guna langsung daun kayu
putih berdasarkan harga daun kayu putih dan produksi rata-rata daun kayu
putih maka nilai daun kayu putih diperkirakan sebesar Rp. 378.787/ha/thn
(24,33%). Nilai daun kayu putih dapat juga diperoleh dari nilai daun kayu
putih yang digunakan untuk membuat minyak kayu putih. Nilai ini merupakan
selisih dari harga minyak kayu putih, biaya produksi dan keuntungan normal. Nilai
tersebut diperkirakan sebesar Rp. 416.250/ha/thn. Jumlah konsusmsi kayu bakar
rata-rata per rumah tangga adalah 128 ikat/thn atau 16 ikat/ha/thn dengan
biaya rata-rata adalah Rp. 2.684/ikat. Nilai kayu bakar untuk konsumsi rumah
tangga adalah Rp. 43.876/ikat/ha/thn (2,87%). Jumlah konsumsi kayu bakar
untuk penyulingan minyak kayu puith rata-rata satu kali penyulingan adalah 3
m3 . Rata-rata kayu bakar untuk penyulingan minyak kayu putih
adalah 276,06 m3 /thn dengan rata-rata per hektar adalah 35,26 m3
/thn dan biaya per m3 adalah Rp. 1.971/ m3. Nilai kayu
bakar untuk penyulingan kayu putih adalah Rp. 69.489/ha/thn (4,54%).
Nilai pilihan jenis flora dan
fauna dinilai sama dengan harga barang yang ada dipasar. Berdasarkan nilai
tukar tersebut, dihitung nilai flora dan fauna. Nilai flora adalah Rp.
2.494/ha/thn (0,16%). Nilai fauna adalah Rp. 23.588/ha/thn (1,52%). Dengan
demikian nilai pilihan berupa flora dan fauna yang masih tersimpan dalam
hutan kayu putih dan sekitarnya adalah Rp. 26.082/ha/thn dan nilai pilihan
tersebut cukup besar. |
|
Kekuatan |
Kekuatan penelitian ini adalah
memiliki dua metode pengukuran yang tidak hanya menilai dari segi nilai guna
langsung saja tetapi dari nilai pilihannya juga seperti nilai flora dan fauna
serta mampu memberikan pejelasan tentang peningkatan tekonologi produksi
minyak daun kayu putih seperti penggunaan peralatan lebih modern atau
modifikasi metode penyulingan yaitu metode rebus diganti dengan metode
uap/kukus apabila tidak cukup modal untuk mengganti peralatan yang ada dengan
yang lebih modern. |
|
Kelemahan |
Kelemahan penelitian ini adalah
tidak menampilkan hasil wawancara berupa data primer yang diperoleh dari
responden atau pengelola hutan kayu putih yang berinteraksi langsung dengan
hutan kayu putih. |
|
Kesimpulan |
Kesimpulan dari penelitian ini
adalah potensi sumberdaya hutan kayu putih yang tumbuh secara alami yang
dapat dimanfaatkan selain daun kayu putih adalah kayu bakar, air, dan
flora-fauna. Nilai Ekonomi Total Hutan Kayu Putih adalah Rp. 1.556.719/ha/thn
dan nilai ekonomi yang terbesar diperoleh dari Nilai Guna Langsung
Rp.1.530.637/ha/thn (98,45%). |
Komentar
Posting Komentar